Halo sahabat selamat datang di website beritaperang.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Di Balik Petaka Industri Giok Myanmar yang Mematikan oleh - beritaperang.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Industri giok Myanmar senilai multi-miliar dolar yang sangat dihargai oleh China diselimuti kerahasiaan, terus mengambil nyawa, dan menggusur puluhan ribu penduduk setempat.

Seluruh tragedinya akrab dialami di Hpakant, kota pertambangan giok di utara Myanmar yang terkenal. Pada dini hari, ratusan penambang batu giok bergerak ke tepi gunung yang tidak stabil untuk mengorek puing-puing longgar yang dibuang oleh truk. Mereka yakin menemukan batu giok berharga akan selamanya mengubah hidup mereka. Ketika gunung itu runtuh, para penambang segera terkubur oleh dinding lumpur begitu tanah longsor. Puluhan penambang langsung menghilang dan keluarga mereka dibiarkan tanpa jawaban.

Tanah longsor tahun ini adalah yang paling mematikan yang pernah tercatat. Longsor pada 2 Juli 2020 di tambang Wai Khar menewaskan sedikitnya 175 orang, kebanyakan pria berusia 20-an tahun, dilaporkan dari berbagai tempat yang jauh seperti negara bagian Rakhine yang dilanda perang. Pada 2019, setidaknya 50 orang meninggal terkubur hidup-hidup di gunung. Pada 2015, ada 113 korban jiwa. Setiap bencana tersebut memicu seruan untuk reformasi sektor pertambangan batu giok Myanmar.

“Tragedi di tambang Hpakant bukan karena bencana alam, melainkan bencana buatan manusia. Alasan utama kematian ini adalah tata kelola sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan yang buruk oleh pemerintah pusat dan cacat dalam konstitusi semi-sipil 2008 yang sangat terpusat,” menurut pernyataan Kachin Development Networking Group, disadur dari The Diplomat.

Hpakant di negara bagian Kachin adalah pusat pertambangan batu giok dan memiliki 14.000 hektar deposit terkaya di negara itu. Tambang tersebut secara resmi ditutup pada 30 Juni 2020, meski tidak mencegah penambang batu giok yang tidak sah bekerja di wilayah itu. Hampir setiap hari, pekerja semacam itu akan pulang dengan tangan kosong atau menghasilkan beberapa dolar usai mendapatkan batu giok kecil. Jika menemukan potongan besar, perusahaan atau bos tempat mereka bekerja akan mengambil batu itu dan seluruh laba yang menyertainya.

Dengan sedikit transparansi mengenai bagaimana perusahaan beroperasi, hampir tidak mungkin bagi keluarga korban untuk menerima segala bentuk kompensasi dari pemerintah Myanmar atau dari perusahaan tempat orang terkasih mereka “bekerja”.

Pelanggaran janji dan minimnya pengawasan

Para pekerja di pertambangan Myanmar. (Foto: The Diplomat)

Kelompok-kelompok masyarakat sipil yang memantau Myanmar utara telah menyoroti tanggapan kebijakan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa. Mereka menyerukan reformasi sektor industri giok setelah tanah longsor buruk berulang kali terjadi di bawah pemerintahan junta militer. Setelah berkuasa lima tahun lalu, Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi dari Partai NLD berjanji untuk melakukan reformasi nyata, tetapi kerangka hukum yang lemah masih berlaku dan hanya sedikit kemajuan yang telah dibuat.

Suu Kyi sebaliknya justru mencatat, para penambang di sana mengabaikan tambang sudah ditutup dan berkata, “Sebagian besar dari korban tersebut adalah penambang ilegal.” Suu Kyi menambahkan, “Sulit bagi warga negara untuk mendapatkan pekerjaan legal, sehingga menciptakan lapangan pekerjaan baru harus diprioritaskan.”

Para pengamat Myanmar merasa skeptis jika “badan investigasi” yang diumumkan oleh pemerintah akan memberikan hasil nyata atau apakah akan ada penguatan langkah-langkah pengaturan baru. Para kritikus menuduh peristiwa tanah longsor berulang kali dengan jumlah korban tewas yang signifikan disebabkan oleh ketidaksediaan pemerintah untuk menegakkan standar keselamatan dan perusahaan pertambangan yang diizinkan untuk beroperasi di Hpakant.

Pada 2014, pemerintah Myanmar bergabung dengan Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif (EITI) untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam cara negara mengelola sumber daya alamnya. Inisiatif itu dimaksudkan untuk menyediakan daftar lisensi minyak, gas, batu permata,  dan mineral aktif untuk umum, tetapi banyak data hingga kini masih belum lengkap. Di tahun yang sama, inisiatif itu untuk sementara berhenti memberikan lisensi baru untuk jangka waktu dua tahun. Para kritikus menganggap undang-undang Gemstone, yang disahkan pada 2019, tidak cukup dalam mengendalikan bisnis pertambangan ilegal. Kebijakan batu berharga yang terpisah masih belum diimplementasikan, yang telah memblokir pendekatan yang lebih layak dan bersifat jangka panjang untuk pertambangan batu giok.

Industri giok tumbuh subur tanpa hambatan sanksi

Demokrasi di Myanmar

Kanselir Myanmar dan Menteri Luar Negeri Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)

Setelah hampir 20 tahun sanksi Amerika Serikat terhadap junta militer penguasa Myanmar, pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama memutuskan untuk mengubah arah berdasarkan persepsi reformasi politik nyata sedang terjadi di negara itu. Setelah memulihkan pemerintahan sipil melalui pemilihan umum demokratis, Presiden Obama bertemu dengan Suu Kyi pada September 2016 dan mengumumkan semua sanksi ekonomi akan dicabut.

Sebulan kemudian, setelah berkonsultasi dengan Suu Kyi, Obama mencabut beberapa perintah eksekutif terkait sanksi Myanmar. Pada Desember 2016, Obama menghapuskan lebih banyak pembatasan pada bantuan AS untuk negara itu. Sangat dikritik oleh banyak lembaga pengawas transparansi, Obama menegaskan keputusannya pada 2016, “Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan untuk memastikan rakyat Myanmar melihat tanggapan dari cara baru dalam menjalankan bisnis dan pemerintahan baru.”

Pencabutan sanksi ekonomi berarti larangan lama terhadap impor giok Myanmar dan perusahaan yang terkait dengan operasinya di dalam negeri akan dihapus dari daftar hitam Departemen Keuangan Amerika Serikat. Juman Kubba dari LSM Global Witness mengatakan pada saat itu, “Pemerintah AS menjatuhkan salah satu sumber pengaruh terbaik atas para mantan jenderal, taipan obat bius, dan perusahaan militer yang diam-diam masih mengendalikan industri penting Myanmar seperti batu giok.”

Empat tahun kemudian, banyak pihak yang kecewa dengan kurangnya kemajuan yang dibuat oleh Partai NLD. Mereka berpendapat, pencabutan sanksi menyebabkan militer lolos dari tuntutan pertanggungjawaban.

Perjalanan dari tambang giok Myanmar ke pasar China

Tambang Hpakant hanya berjarak 100 kilometer dari Myitkyina, kota utama negara bagian Kachin, tetapi dibutuhkan 6-10 jam melalui jalan yang sangat kasar dan tidak beraspal untuk sampai ke sana. Beberapa pos pemeriksaan didirikan di sepanjang jalan. Orang asing dilarang memasuki wilayah dekat pertambangan. Meskipun ilegal, para pembeli China semakin banyak pergi ke tambang agar tidak perlu membeli lewat perantara. Para komandan militer Myanmar akan dibayar dengan suap atau “royalti” sehingga penyelundup tidak diperiksa di pos pemeriksaan di sepanjang jalur penyelundupan dari Hpakant ke Myitkyina ke Mandalay.

Bagi perantara Shima Verma dari negara bagian Rakhine, ia dan keluarganya telah berkecimpung dalam bisnis batu giok yang menguntungkan selama bertahun-tahun. Dia mengaku melakukan puluhan perjalanan antara Hpakant dan Mandalay per tahun dan bekerja dengan para penjual China di pasar untuk memfasilitasi kesepakatan. Untuk rata-rata batu giok yang dia jual, dia menjelaskan para penambang mendapat US$60, dia akan mendapatkan US$150, dan penjual China akan mendapat $ 500. Dia mengaku menghasilkan US$2.000 hingga 3.000 per bulan, sepuluh kali lipat upah rata-rata di Myanmar.

Sebagian uang juga diberikan kepada Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), kepada perantara, dan bos lokal, yang hanya menyisakan 10-20 persen kepada para penambang giok. Bagian terbesar dari industri dikendalikan oleh para mantan junta militer di negara itu. Meskipun kepemilikan asing di Myanmar ilegal, produsen terbesar di sana adalah perusahaan-perusahaan boneka milik China dari China daratan, Taiwan, dan Hong Kong. Diperkirakan hanya 10-15 pemilik yang memiliki sekitar 100 perusahaan tambang besar di Myanmar.

Para pekerja pertambangan Myanmar tengah beristirahat sejenak. (Foto: The Diplomat)

Tambang Wai Khar diduga dimiliki oleh lima perusahaan yang berbeda. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dilacak dan tidak ada yang bisa menuntut pertanggung jawaban mereka ketika terjadi kecelakaan. Di sekitar seluruh area pertambangan, perusahaan-perusahaan itu seringkali sulit untuk diidentifikasi apakah merupakan perusahaan-perusahaan bayangan pemerintah dengan lisensi palsu atau dibiayai oleh pengusaha China, yang terkadang berkebangsaan ganda. LSM anti-korupsi Global Witness mengatakan hal itu bisa menunjukkan “perampokan sumber daya alam terbesar dalam sejarah modern”.

Berdasarkan catatan The Diplomat, laporan pada 2015 oleh LSM anti-korupsi Global Witness bertajuk Jade: Myanmar’s Big State Secret mengungkapkan pekerjaan terselubung sektor batu giok bernilai US$31 Miliar. Laporan itu mengungkapkan jaringan luas perusahaan-perusahaan yang tidak transparan yang terkait dengan militer Myanmar, kelompok-kelompok pemberontak etnis yang beroperasi di daerah itu, perdagangan obat-obatan dan senjata, hingga bisnis China.

Menurut para penjual di Mandalay, ribuan orang datang untuk melakukan bisnis setiap hari di pasar batu giok terbesar di dunia itu. Di pasar Mandalay, para penjual terhubung dengan pembeli China, banyak dari kota perbatasan terdekat Ruili di Yunnan, China. Selama krisis keuangan, perdagangan batu giok melambat. Namun, pada 2011, industri batu giok Ruili yang berkembang menarik banyak anak muda dari seluruh Yunnan untuk bekerja di kota perbatasan dengan memurnikan batu untuk dikirim ke klien di seluruh China.

Para pembeli China akan duduk dan memeriksa batu-batu dari berbagai ukuran dari penjual Burma yang merupakan penambang batu giok, perantara, atau pengusaha China-Myanmar. Beberapa batu giok melewati saluran resmi ke Naypyidaw, tetapi sebagian besar diselundupkan melalui pasar gelap ke China lewat perbatasan terdekat. Hanya sebagian kecil pendapatan ini yang dapat ditelusuri dan akhirnya dikenai pajak.

Sebelum pandemi COVID-19, dalam penerbangan kembali ke Mandalay dari Myitkyina, seorang pedagang batu giok China dari Guangzhou mengaku telah berada di Hpakant beberapa kali dalam tiga tahun terakhir. Ada penerbangan langsung dari kotanya ke Mandalay. Dia mengaku menghasilkan US$4.000-6.000 sebulan. Ekonomi China di tengah pandemi telah mengalami perlambatan ekonomi terburuk sejak 1970-an, menyusut hampir 7 persen.

Namun, perlambatan ekonomi sudah dimulai sebelum pandemi. “Ekonomi semakin memburuk di China. Dengan uang yang saya hasilkan dari batu giok, saya dapat dengan mudah membeli rumah dan menghidupi keluarga saya dengan layak. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai itu lewat pekerjaan biasa di China.”

Lebih sedikit dilakukan secara tunai, tetapi sekarang dengan semakin banyak ponsel pintar dan internet berkecepatan tinggi di Myanmar, sebagian besar penjual China menggelar lelang secara streaming untuk pembeli di dunia maya dan menjual batu giok secara instan. Mereka pun menerima uang dengan aplikasi China seperti WeChat atau Taobao. Transaksi tanpa uang tunai juga berarti pendapatan lebih sulit dilacak, dengan sekitar 80 persen pembelian bebas pajak. Di pihak China, Ruili secara eksplisit disebut dalam bisnis batu giok sebagai Pasar Giok Taobao, yang didirikan bersama oleh pemerintah China dan raksasa e-commerce Taobao.

‘Emas mahal, tapi batu giok sangat berharga’

Dari perspektif China, simbolisme giok mengakar kuat selama ribuan tahun sejak Zaman Neolitikum sebagai simbol kemakmuran di kalangan elit. Obsesi terhadap batu giok hampir seluruhnya didominasi orang China. Permintaan akan batu giok hampir seluruhnya didorong oleh pasar China dometik. Masyarakat China melihat nilai batu giok jauh melampaui emas.

Menurut laporan The Diplomat, deposit batu giok lain tersebar di berbagai belahan dunia: Guatemala, Jepang, Rusia, dan di California Amerika Serikat, tetapi paling mudah diakses berada di seberang perbatasan China melalui Yunnan. Myanmar juga terkenal memiliki giok berkualitas tinggi.

“Jalur Giok” antara kedua negara telah tercatat sejak akhir abad ke-18 hingga Perang Dunia II. Sebagian besar perdagangan kemudian bergeser ke Hong Kong, di mana para pedagang langsung menjual batu mereka atau melalui perantara pedagang dari Yunnan.

Tiga dekade kemudian pada 1980-an, berkat reformasi pasar bebas di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, permintaan batu giok kembali meroket, lantas menggeser kerajinan dan penjualan giok kembali ke China. Kesejahteraan ekonomi yang muncul dan meningkatnya permintaan akan produk-produk mewah di China sejak 1990-an telah menambah permintaan China untuk batu giok Myanmar. Sebagai satu-satunya pendorong harga “giok imperial” secara global dan hanya bernilai di pasar China, giok Myanmar mengungguli nilai karat dari batu berlian, rubi, dan safir yang populer di berbagai tempat di dunia.

Lahan pertambangan di Myanmar (Foto: The Diplomat).

Pada 1990-an, Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), salah satu dari beberapa kelompok etnis bersenjata yang telah berjuang melawan rezim militer untuk otonomi sejak 1961 di sepanjang perbatasan, akhirnya kehilangan kendali atas tambang-tambang berharga di sekitar Hpakant. Dari perspektif pemerintah Myanmar, semakin banyak cadangan batu giok habis, semakin lemah KIA. Ketika pertambangan batu giok mulai populer pada 1990-an, Hpakant berubah menjadi kubangan kejahatan yang penuh dengan obat-obatan terlarang, prostitusi, dan perdagangan senjata.

Sekarang dengan kontrol yang kuat, junta militer Myanmar atau Tatmadaw terus mendapatkan keuntungan besar dari permintaan baru China akan batu giok. Militer mengalokasikan wilayah tambang yang paling menguntungkan untuk diri mereka sendiri dan menjalin kerja sama yang tidak transparan dengan perusahaan-perusahaan China. Akibatnya, hal ini telah mengurangi keuntungan KIA dan pertempuran berlanjut sampai 1994 ketika gencatan senjata ditandatangani. Ketika itu terjadi, ribuan orang dari seluruh Myanmar berbondong-bondong ke daerah Hpakant untuk mencari batu giok.

Di bawah kerangka kerja konstitusional 2008, militer Myanmar mempertahankan otonomi luas dan wewenang dalam banyak aspek operasi di negara itu. Salah satu yang paling menonjol adalah kepemilikan junta militer atas dua korporasi besar yang memiliki sejumlah besar bisnis, termasuk di sektor pertambangan batu giok.

“Masalah terbesar adalah orang-orang tidak memiliki hak kepemilikan. Kesepakatan berbagi bersama yang bermanfaat bagi orang-orang di sana sangat penting untuk area pertambangan giok. Keuntungan hanya untuk kroni dan orang-orang yang terlibat dalam pemerintah pusat,” tutur Tsa Ji dari asosiasi kelompok masyarakat sipil Kachin Development Networking Group kepada Al Jazeera pada 2015.

Dari 1994 hingga 2011, selama hampir 17 tahun, gencatan senjata antara Tatmadaw dan KIA dapat bertahan hingga pertempuran kembali pecah. Selama dekade terakhir, lebih dari 100.000 warga Kachin dan negara bagian tetangga Shan telah terlantar akibat konflik. Meskipun berkurang, KIA dilaporkan masih memiliki upaya untuk mengekstrak pendapatannya sendiri dari operasi pertambangan lokal. Hanya sedikit atau nyaris tidak ada pendapatan yang mencapai populasi lokal Kachin. LSM Swedwatch menyebutkan, “Kendali atas pendapatan dari tambang batu giok Kachin adalah prioritas strategis bagi kedua belah pihak dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung, yang telah merusak Kachin selama enam dekade.”

Menurut The Irrawaddy, pada pertengahan Juni 2020, “KIA memperingatkan warga sipil di Kutkai di negara bagian Shan utara minggu ini, bentrokan dapat meletus kapan saja di daerah antara kelompok bersenjata etnis dan militer Myanmar (Tatmadaw).” Wilayah tersebut berjarak dua jam dari perbatasan Muse-Ruili.

Perubahan akibat pandemi COVID-19

Penambang menunjukkan kualitas batu yang berhasil ia peroleh di lahan tambang Myanmar. (Foto: The Diplomat)

Meskipun Myanmar sejauh ini sebagian besar tidak dilumpuhkan oleh pandemi COVID-19 dengan mencatat sedikit lebih dari 300 kasus, negara itu telah menutup sebagian besar koridor yang digunakan untuk perdagangan dan penyelundupan batu giok melintasi perbatasan China. Myanmar sudah menyiapkan implikasi ekonomi besar bagi pihak-pihak yang berada di perdagangan batu giok yang tidak dapat bertahan tanpa pembeli. Akibat keputusasaan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, lebih banyak orang telah beralih bekerja di pasar gelap untuk menjajakan batu giok lokal.

Pasar batu giok Mandalay ditutup pada Maret 2020 setelah pemerintah melarang orang berkumpul dalam jumlah besar. Pasar itu tetap ditutup, tetapi pembelian dan penjualan batu giok berlangsung secara rahasia. Terdapat pembatasan perjalanan internal dan langkah-langkah karantina di dalam negara yang membatasi pergerakan orang. Penerbangan berhenti dan bisnis China melambat secara signifikan, tetapi perbatasan masih terbuka dan beberapa orang terus melakukan perjalanan bolak-balik.

The Diplomat mencatat, seluruh masa depan industri giok Myanmar sangat tidak pasti akhir-akhir ini, setidaknya sampai musim hujan berakhir. Menutup penyeberangan perbatasan dan perdagangan telah menelan biaya jutaan dolar per hari bagi Myanmar sejak Januari 2020, yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan tanpa sumber penghasilan dari Kachin. Hingga kini belum jelas berapa banyak kegiatan lintas batas yang diizinkan saat ini.

Selama masih ada batu giok di Hpakant, tuntutan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan masyarakat sipil kemungkinan tidak akan pernah terdengar. Kecelakaan akan terus terjadi dan narkoba akan terus mengalir dalam industri bayangan bernilai miliaran dolar itu. Myanmar telah menetapkan pemilihan umum pada 8 November.

“Semakin lama pemerintah Myanmar tak kunjung memperkenalkan reformasi ketat terhadap sektor giok, semakin banyak nyawa akan hilang. Ini adalah tragedi yang sepenuhnya dapat dicegah yang seharusnya berfungsi sebagai panggilan darurat bagi pemerintah,” tegas Donowitz. “Pemerintah harus segera menangguhkan perambangan berskala besar, ilegal, dan berbahaya di Hpakant serta memastikan perusahaan yang terlibat dalam praktik ini tidak lagi dapat beroperasi.”

 

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Ilustrasi pertambangan di Myanmar yang mematikan. (Foto: the Diplomat)

Itulah tadi informasi mengenai Di Balik Petaka Industri Giok Myanmar yang Mematikan oleh - beritaperang.xyz dan sekianlah artikel dari kami beritaperang.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.