Halo sahabat selamat datang di website beritaperang.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Hadapi China, Indonesia Perlu Lebih Mesra dengan AS oleh - beritaperang.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kerja sama antara Indonesia-AS (Amerika Serikat)perlu dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, mirip dengan aliansi, untuk memastikan China tidak akan mendikte kebijakan di wilayah tersebut, menurut jurnalis dan analis Emanuele Scimia.

Laut Natuna, yang mengelilingi rantai pulau-pulau Indonesia di lepas pantai barat laut Kalimantan, telah menjadi titik perselisihan terbaru dalam pertarungan antara China dan negara-negara tetangga Asia Tenggara di Laut China Selatan.

Indonesia, yang mengklaim Laut Natuna sebagai bagian dari zona ekonomi eksklusifnya, atau ZEE, telah secara resmi mengatakan negara ini memiliki hak atas perairan itu dan perairan terdekat yang masuk ke dalam “sembilan garis putus” China. Pada 18 Juni, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan tidak ada alasan untuk bernegosiasi dengan China tentang kegiatan penangkapan ikan di sekitar kepulauan Natuna.

Namun, bagaimana jika China mengabaikan tekanan diplomatik pemerintah dan terus mengirim kapal perang, kapal penjaga pantai, dan kapal milisi laut untuk menegaskan hak penangkapan ikan “bersejarah” mereka di daerah itu?

Baca Juga: TikTok di Pusaran Perang Teknologi Amerika-China

Indonesia tidak memiliki cara untuk mencegah sendiri serbuan China di Laut Natuna, yang berbatasan dengan tepi barat daya Laut China Selatan. Mengingat solidaritas Asia Tenggara terhadap China tidak terlihat, Indonesia hanya memiliki satu pilihan: meningkatkan hubungan militernya dengan AS, menurut jurnalis dan analis Emanuele Scimia, dalam tulisannya di Nikkei Asian Review.

Pasukan angkatan laut Indonesia sering harus menghadapi kapal pukat ikan China yang dikawal oleh militer atau kapal Penjaga Pantai bersenjata. Insiden terbaru terjadi pada Desember, ketika kapal-kapal China memasuki Laut Natuna, mendorong Indonesia untuk mengerahkan jet tempur dan kapal perang di daerah tersebut, lapor Scimia.

Indonesia sekarang telah mendasarkan protesnya pada hukum. Dalam dua catatan yang diajukan ke Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada 26 Mei dan 12 Juni, pemerintah Indonesia mengatakan sembilan garis putus China tidak memiliki dasar hukum dan bertentangan dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, atau UNCLOS.

Lebih lanjut, orang Indonesia menyuarakan dukungan untuk putusan tahun 2016 oleh Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag yang menolak klaim teritorial China di wilayah tersebut. Kasus di pengadilan internasional itu diajukan oleh Filipina yang, bersama dengan Vietnam, Malaysia, Taiwan dan Brunei, menentang pendudukan dan militerisasi pulau, terumbu karang, dan beting di Laut China Selatan oleh China.

Seperti yang dikatakan pensiunan Laksamana TNI Eden Gunawan, kerangka hukum UNCLOS tidak cukup kuat untuk menghentikan kapal-kapal nelayan China dan asing lainnya melanggar batas ZEE Indonesia.

Berita Populer

Wilayah Natuna. (Foto: Kepulauan Natuna Besar/Flickr/ via ORF)

Dengan lebih dari 17.500 pulau dan banyak titik sempit, Indonesia rentan terhadap serangan eksternal, kata Scimia. Angkatan Laut Indonesia telah mengadopsi strategi pertahanan mendalam untuk melawan intrusi asing di ZEE dan melindungi perbatasan maritim.

Intinya, tulis Scimia, Indonesia perlu mengirim kapal penjaga pantai dan kapal perang mereka untuk menghadapi kapal asing dengan jenis yang sama, sesuai dengan aturan UNCLOS.

Saat ini, Indonesia telah mengerahkan beberapa unit angkatan laut di perairan Natuna. Negara ini juga berkomitmen untuk membangun pangkalan udara dan angkatan laut di Pulau Natuna Besar, dan meningkatkan keberadaan kapal penangkap ikan lokal untuk melaksanakan kedaulatan atas wilayah tersebut.

Namun, pandemi virus corona telah memukul perekonomian negara ini, mendorong pemerintah untuk memangkas pengeluaran militer untuk tahun 2020.

Seperti negara-negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia lebih memilih untuk tidak memihak dalam persaingan AS-China. Status quo itu selalu menjadi pilihan pertama bagi Indonesia dan negara-negara tetangganya.

Persatuan dan koordinasi di antara 10 anggota ASEAN tentang masalah Laut China Selatan tentu saja akan membantu mencegah sikap tegas China, tetapi ini sulit ditegakkan saat ini, menurut Scimia. Penandatanganan kode etik yang mengikat untuk kegiatan di jalur air strategis antara blok Asia Tenggara dan China juga masih macet.

Dengan latar belakang ini, dan meningkatnya persaingan antar-kekuatan, risiko netral menjadi tidak berkelanjutan bagi para aktor regional yang berselisih dengan China.

Scimia berpendapat, pemerintah Indonesia harus mengakui kenyataan pahit dan bertindak sesuai dengan itu. Gagasan memperluas hubungan militer dengan AS mendapat dukungan dari beberapa orang di jajaran senior militer Indonesia. Mereka mengatakan negara mereka telah bekerja sama secara militer dengan AS selama lebih dari 40 tahun, dengan fokus pada latihan bersama.

Scimia menekankan, kerja sama itu perlu dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, mirip dengan aliansi, untuk memastikan China tidak akan mendikte kebijakan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Makin Tegang, Amerika Sebut China Pencuri

Hubungan yang ditingkatkan itu dapat meniru pakta militer AS-Singapura, yang memberikan akses pasukan AS ke pangkalan angkatan laut dan udara Singapura, termasuk penempatan pesawat mata-mata dan kapal tempur pesisir.

Angkatan Laut Indonesia dapat mengoordinasikan pendekatan pertahanannya yang mendalam dengan kebebasan AS untuk operasi navigasi di Laut China Selatan, dan Angkatan Laut AS dapat berkontribusi untuk berpatroli di kepulauan Indonesia yang luas.

Dengan cara ini, Indonesia akan menyempurnakan pertahanannya terhadap China, sementara AS akan mendapatkan mitra aktif dalam upayanya untuk menahan China di laut China dan Selat Taiwan, tegas Scimia.

Tidak memiliki aliansi penuh dengan AS, Singapura telah menjaga elastisitas yang cukup untuk mempertahankan hubungan dekatnya dengan China. Hubungan pertahanan Indonesia yang lebih baik dengan AS mungkin harus dibangun dengan asumsi yang sama.

 

Penerjemah: Nur Hidayati

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Cobra Gold 2020, ilustrasi potret tentara Amerika Serikat dan Indonesia. (Foto: Hawaii Public Radio)

Itulah tadi informasi dari daftar poker mengenai Hadapi China, Indonesia Perlu Lebih Mesra dengan AS oleh - beritaperang.xyz dan sekianlah artikel dari kami beritaperang.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.