Halo sahabat selamat datang di website beritaperang.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Sejarah Catat Trump Gagal Tangani Pandemi, Bagaimana Nasibnya di Pilpres AS? oleh - beritaperang.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memprioritaskan ekonomi daripada kesejahteraan rakyatnya. Trump akan membayar dampaknya dalam ajang Pilpres AS 2020.

Para pakar sosial cenderung meremehkan peran kepribadian dalam sejarah, dan lebih memperhatikan kekuatan sosial. Mereka mengejek kegemaran media atas perlakuan tajuk berita yang sesuai untuk setiap gerakan kecil dan ucapan oleh kepala negara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memaksa para pakar sosial tersebut untuk mempertimbangkan kembali posisi itu. Kepribadian Trump yang unik menimbulkan efek luar biasa besar terhadap arah bangsa dan bahkan lembaga-lembaganya.

Menelusuri insting Trump telah banyak mempermudah prediksi dan analisis sejauh ini. Namun, menurut analisis Amitai Etzioni di The National Interest, naluri-naluri inilah yang menyebabkan Trump membuat kesalahan penilaian yang begitu besar hingga akhirnya akan menentukan kepresidenannya.

Baca juga: Tak Mau Cari Masalah, China Tunggu Trump Lengser pada November

Awalnya, para ilmuwan sosial cenderung memandang kebangkitan dan kepresidenan Trump terutama sebagai ekspresi dari kebencian segmen populasi Amerika Serikat berkulit putih, kelas pekerja, dan tanpa pendidikan tinggi (yang cenderung membuat para lulusan universitas lebih liberal). Kelompok orang tersebut melihat diri mereka sebagai minoritas yang dianiaya, yang dirampas hak-haknya lewat tindakan afirmatif, imigran, dan pemerintah yang dominan.

Sosiolog Arlie Russell Hochschild selama lima tahun mempelajari para pemilih Tea Party di Louisiana, banyak dari mereka kemudian menjadi pemilih Trump. Hochschild telah membagikan temuannya dalam buku bertajuk Strangers in Their Own Land: Anger and Mourning on the American Right.

Dia bertanya kepada orang-orang yang dia wawancarai, apa yang mereka rasakan tentang narasi berikut: “Anda dengan sabar berdiri di tengah antrean panjang yang membentang ke arah cakrawala, di mana Impian Amerika menunggu. Namun, ketika Anda menunggu, Anda melihat orang-orang berbaris di depan Anda. Banyak dari para penyerobot antrean ini berkulit hitam, penerima manfaat dari tindakan afirmatif atau bantuan kesejahteraan.”

“Beberapa di antaranya adalah perempuan yang digerakkan oleh karier untuk melakukan pekerjaan yang belum pernah mereka miliki sebelumnya. Kemudian Anda melihat imigran, orang Meksiko, Somalia, para pengungsi Suriah.”

“Saat Anda menunggu di antrean yang tidak bergerak ini, Anda diminta untuk merasa kasihan pada mereka semua. Pemerintah telah menjadi instrumen untuk mendistribusikan kembali uang Anda kepada orang-orang yang tidak layak. Ini bukan pemerintah Anda lagi, tetapi milik mereka.”

Pertama Kalinya, Trump Tampil di Publik Memakai Masker

Donald Trump tampak mengenakan masker di ruang publik untuk pertama kalinya sejak corona melanda Amerika. (Foto: Business Insider)

Para responden memberikan sedikit penyesuaian. Mereka dengan tegas menyatakan narasi tersebut secara akurat menggambarkan perasaan mereka. Orang-orang Amerika tersebut juga merasa dihina oleh para elit liberal, meski bukan tanpa alasan. Mereka tidak lupa, Hillary Clinton pernah menyebut mereka menyedihkan. Jauh sebelum Trump, terdapat sjeumlah tokoh populis di media seperti Rush Limbaugh, Glenn Beck, dan Bill O’Reilly yang terus menghasut mereka.

Kelompok orang Amerika ini setidaknya terdiri dari sepertiga masyarakat. Banyak orang AS lainnya memiliki sentimen seperti mereka. Trump tidak mempelajari grup ini atau mengembangkan strategi untuk menarik mereka. Trump secara naluriah berbicara untuk mereka dan dengan suara mereka.

Dia tampaknya berbagi banyak perasaan mereka dan menguatkan mereka dengan aliran pernyataan harian yang melegitimasi bias mereka, yang lebih lanjut didukung oleh Fox News dan lainnya di media sayap kanan. Trump telah membuat pandangan yang biasanya dibisikkan di meja makan setelah para tamu pergi, menjadi pernyataan yang dapat dengan aman diteriakkan dari atap rumah, termasuk berbagai teori konspirasi.

Perubahan tersebut dapat ditelusuri penyebabnya pada teknologi, khususnya kebangkitan media sosial, seperti yang ditulis Andrew Marantz dalam bukunya Antisocial: Online Extremists, Techno-Utopians, and the Hijacking of the American Conversation.

Namun, selama masa kepresidenannya, menjadi semakin jelas bahwa Trump melakukan lebih dari sekadar memberikan suara kepada orang-orang kulit putih yang menganggap diri mereka sebagai minoritas yang dirampas haknya. Trump telah memanfaatkan pertumbuhan kekuatan presiden selama puluhan tahun serta kekuatan pengawasan yang berkurang dari Kongres AS dan pengadilan, untuk memperkenalkan perubahan besar dalam tata kelola Amerika Serikat, yang kian mengikis panduan demokrasi.

Para sejarawan mungkin telah meremehkan bagaimana Trump merusak demokrasi Amerika Serikat, seandainya ia mengambil alih perang melawan pandemi COVID-19, menyelamatkan ribuan nyawa, dan mengekang kehancuran ekonomi.

Baca juga: Trump Tutup Konsulat China demi Dongkrak Popularitas di Pilpres AS?

Amitai Etzioni di The National Interest memperkirakan bahwa Trump meningkatkan dampak buruknya, dan fakta itu akan berada dalam bagian teratas dampaknya. Itu akan menjadi kisah seorang presiden yang instingnya menuntunnya hingga ia melakukan kesalahan bersejarah, yaitu keputusannya untuk memberikan prioritas untuk menghidupkan kembali ekonomi daripada memerangi pandemi.

Kesalahan ini adalah hasil dari kecenderungan Trump untuk memandang dunia melalui kacamata seorang pengusaha, yang membuatnya menganggap prioritas terhadap ekonomi lebih penting daripada kesehatan masyarakat.

Trump sudah terkenal memiliki kecenderungan untuk melihat dunia lewat simbol dolar. Dengan demikian, kepentingan utamanya dalam latihan militer berskala besar yang dilakukan Amerika Serikat setiap tahun dengan Korea Selatan bukanlah pengaruhnya terhadap hubungan AS dengan Korea Utara atau apakah mereka memang dibutuhkan pada awalnya, tetapi berapa biayanya.

Kekhawatiran utama Trump tentang NATO bukanlah apa yang perlu ditingkatkan, mengingat peningkatan sikap asertif Rusia, atau apakah NATO telah melampaui kegunaannya. Kepentingan utamanya adalah memastikan AS membayar lebih sedikit dan negara-negara Uni Eropa membayar lebih banyak untuk pemeliharaan NATO.

Dalam berurusan dengan China, Trump cenderung berfokus pada perdagangan daripada pada pertanyaan apakah AS harus kembali memasuki Perang Dingin dengan kekuatan super China yang meningkat atau berusaha untuk berkolaborasi dengan China, terutama dalam memerangi pandemi.

Dalam cuitannya di Twitter baru-baru ini tentang mengeluarkan pasukan dari Afghanistan, AS menyatakan bahwa Taliban benar-benar ingin pasukan AS tetap di negara mereka, karena Taliban menghasilkan uang dari kehadiran Amerika.

Setelah sejumlah badan intelijen, Departemen Luar Negeri, serta Departemen Pertahanan Amerika Serikat maupun penasihat perdagangan utama Trump Peter Navarro memperingatkannya tentang pandemi yang akan datang pada Januari 2020, Trump dilaporkan memutuskan untuk meremehkannya.

Ketika Trump akhirnya setuju untuk mendukung kebijakan untuk mencoba menghentikan pandemi, ia melakukannya dengan enggan dan setengah hati. Dia menyerahkannya kepada para gubernur untuk memimpin penanganan di tingkat negara bagian.

Dalam beberapa pekan, Trump mulai mendorong untuk membuka kembali perekonomian, jauh sebelum pengujian dan pelacakan kontak telah mencapai tingkat yang diperlukan untuk pembukaan yang aman. Dengan keputusan ini, Trump mengacu pada nalurinya bahwa masa depan politiknya akan tergantung pada keadaan ekonomi daripada kesehatan masyarakat. Ini adalah kesalahan penilaian yang sedemikian besar sehingga mungkin memainkan peran kunci ketika para sejarawan menilai pemerintahan Trump, yang akan menelan banyak korban jiwa rakyat Amerika.

Prediksi Amitai Etzioni di The National Interest didasarkan pada fakta bahwa para pemimpin negara-negara lain yang mengambil langkah awal dan tegas untuk memerangi pandemi (apa pun biaya ekonominya) meraih popularitas politik yang sangat baik.

Salah satu contohnya adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang popularitasnya menurun sebelum pandemi pecah. Netanyahu secara luas dipuji karena telah menutup Israel lebih awal serta menerapkan pengujian dan pelacakan kontak luas, yang membatasi tingkat kematian hingga sangat rendah, meskipun Israel tampaknya telah dibuka kembali terlalu cepat.

Hal yang sama berlaku untuk Kanselir Jerman Angela Merkel. Peringkat persetujuannya naik dari 53 persen pada Februari 2020 menjadi 68 persen pada Mei. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mencatat peringkat persetujuan 87 persen untuk tanggapannya terhadap pandemi.

Demikian pula dengan dukungan populer terhadap Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Semua negara tersebut telah mengalami kemunduran baru-baru ini, tetapi masih mencatat performa penanganan pandemi yang jauh lebih baik daripada Amerika Serikat.

Hal yang sama juga didukung oleh popularitas tinggi para gubernur Amerika Serikat yang mengambil langkah-langkah keras sejak awal dalam memerangi pandemi dan tetap berada di jalur itu. Gubernur New York Andrew Cuomo meraih peringkat persetujuan 81 persen untuk penanganan krisis. Gubernur Ohio Mike DeWine meraih peringkat persetujuan 86 persen untuk tanggapannya terhadap pandemi. Demikian pula dengan perolehan dukungan Gubernur Michigan Gretchen Whitmer.

Para politisi yang menyepelekan pandemi dan memprioritaskan ekonomi telah mencatat angka dukungan yang jauh lebih buruk. Hal ini terutama berlaku untuk Presiden Brasil Jair Bolsonaro. Peringkat persetujuannya cukup rendah, hanya 39 persen. Peringkat persetujuan Gubernur Georgia Brian Kemp juga sama buruknya. Sementara itu, Trump memperoleh peringkat persetujuan 43 persen untuk penanganan pandemi.

Mungkin masih belum terlambat jika Trump melakukan perubahan drastis saat ini dan mengakui bahwa dia telah meremehkan tantangan yang dihadapi Amerika Serikat tetapi sekarang melihatnya secara nyata. Seandainya saja Trump bersedia memakai masker dan menyatakan bahwa ia memandang mengenakan masker sebagai tanda kerja sama yang baik, bekerja dengan Kongres AS untuk melakukan pengujian dan pelacakan kontrak besar-besaran (program yang sekarang sedang dia pangkas), memerintahkan perusahaan untuk memproduksi pasokan medis yang hingga kini masih kekurangan di Amerika, dan membuka kembali ekonomi dengan mempertimbangkan kondisi wabah, seperti yang dikatakan oleh penasihat Gedung Putih untuk penanganan pandemi Anthony Fauci.

Seandainya Trump melakukan semua upaya itu, mungkin aka nada cukup banyak pemilih yang akan kembali memilihnya lagi. Namun, Trump tampaknya sangat tertarik untuk menciptakan gangguan, sehingga ia seakan telah mengorbankan reputasi politiknya sendiri.

Mungkin tidak ada jalan lain bagi Trump untuk membuat sebagian besar orang kembali bekerja dan menggerakkan kembali ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan. Kita perlu memperhitungkan bahwa banyak pemilih AS telah memutuskan jauh sebelum November dan cenderung menilai keadaan dengan apa yang mereka alami, daripada apa yang dikatakan para politisi kepada mereka tentang kondisi ekonomi AS sejauh ini atau tahun depan.

Tidak mungkin untuk menetapkan sejarah alternatif mengenai posisi Trump seandainya saja dia memilih untuk memimpin perang melawan pandemi. Namun, kita dapat membayangkan, jika dia mengikuti jalan lain untuk mengambil pendekatan proaktif dan berpusat pada kesehatan masyarakat yang kuat, dan jika dia secara ajaib menunjukkan empati bagi semua orang yang berduka dan menderita, sangat mungkin banyak pihak yang awalnya mengkritik tindakannya mungkin dapat memaafkan dan memilih Trump.

Amitai Etzioni menegaskan dalam analisisnya di The National Interest, bukan berarti kesalahan bersejarah Trump merusak prospeknya untuk terpilih kembali dalam Pilpres AS 2020. Namun, jika dia menang, kemenangannya mungkin lebih disebabkan oleh nalurinya daripada manuver lainnya, seperti penindasan pemilih yang dilakukan habis-habisan.

Salah satu contohnya: pada 2018, para pemilih Florida dengan sangat besar memberikan suara untuk memulihkan hak pilih sekitar 1,4 juta orang yang telah menyelesaikan hukuman kejahatan mereka. Namun, pada 2019, negara bagian itu memberlakukan undang-undang yang memaksa orang-orang tersebut untuk membayar semua biaya, denda, dan kewajiban keuangan lainnya sebelum dapat memberikan suara. Ketentuan itu pada dasarnya telah mencabut hak pilih mereka. Tindakan ini pada dasarnya baru saja mendapatkan persetujuan dari Mahkamah Agung AS.

Sejumlah dorongan penindasan pemilih lainnya terjadi di berbagai negara bagian lain. Trump juga memiliki keunggulan sebagai kepala negara. Dia dapat memanfaatkan fakta bahwa orang Amerika sedang belajar untuk menganggap normal kematian akibat pandemi COVID-19, yang semakin dianggap setara dengan kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebagai harga yang layak dibayar untuk berkeliling dengan bebas di jalan raya.

Jika Trump terpilih kembali, Amitai Etzioni menyimpilkan di The National Interest, sejarah mungkin akan menyoroti bahwa hal itu terjadi terlepas dari kesalahan strategisnya, yang tidak mungkin dimaafkan atau dilupakan begitu saja.

 

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Aziza Larasati

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP/Mandel Ngan)

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Sejarah Catat Trump Gagal Tangani Pandemi, Bagaimana Nasibnya di Pilpres AS? oleh - beritaperang.xyz dan sekianlah artikel dari kami beritaperang.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.